Beberapa waktu yang lalu, aku naik bus dari Jakarta ke Bogor, saat berhenti di sebuah SPBU di tol Jagorawi buat ngisi solar, pandangan mataku tertuju pada mobil di sebelah, hati kecilku pun sontak mengatakan, “Hah…di jalan tol kayak gini, masih juga jual premium? Padahal yg beli di sini kan mobil doank. Kok, begini ya?” Betapa tidak, mobil-mobil pribadi yang sudah tentu dimiliki masyarakat menengah ke atas juga ikut-ikutan “makan” subsidi pemerintah. Bukannya nggak boleh ikutan menikmati subsidi, tapi bayangkan triliunan uang subsidi ini lebih banyak dinikmati orang-orang berada. Uang itu tentu akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk keperluan lainnyayang lebih vital. Disparitas harga premium dengan BBM non subsidi memang sangat besar. Bahkan harga BBM beroktan 92 dan 95 dari semua produsen yang ada (Pertamina, Shell, Petronas, dan Total) berada di kisaran dua kali lipat BBM bersubsidi. Mungkin itu salah satu sebab mengapa mereka memilih membeli premium, toh tak ada aturan yang melarangnya. Lanjut membaca
Penerimaan Diri Apa Adanya
Penerimaan diri adalah sadar dan menerima segala kelemahan dan kelebihan yang ada pada diri kita sendiri dengan disertai kemauan untuk melakukan perubahan atau perbaikan yang berangkat dari potensi yang telah ada pada diri kita. Jadi bukan menerima diri apa adanya tanpa ada keinginan untuk menjadi lebih baik. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri adalah
- pengharapan,
- budaya dalam keluarga,
- rasa sakit yang pernah dialami,
- ketidakseimbangan antara hati dan pikiran.
Orang yang dapat menerima diri sendiri biasanya juga bisa menerima orang lain apa adanya. Ia sadar bahwa tak ada seorangpun yang sempurna di dunia ini, sehingga ia bisa memaklumi dan menerima kekurangan orang lain. Ia pun tidak mudah mengkritik dan meremehkan orang lain. Mengkritik orang lain memang bagus, tapi bukan kritik yang menjatuhkan, melainkan untuk memotivasi orang tersebut untuk lebih baik. Penerimaan diri dipengaruhi oleh
- self concept (kesadaran kita terhadap keunikan dan seluruh struktur kepribadian kita)
- self image (cara kita memandang diri kita sendiri)
- self esteem (harga diri kita) Lanjut membaca
Mari Berkomunitas di Faceblog
Beberapa hari yang lalu seorang teman yang memang sesama blogger mengajakku untuk ikutan kontes SEO. Aku pikir, boleh juga nih buat ngetes kepopuleran blogku
. Apalagi dia bilang hadiah utamanya adalah sebuah laptop. Hmm..meski saingannya pasti berat, yah siapa tahu, kalau Allah sudah menghendaki gudir ngalih kata orang Jawa, maksudnya hal itu sangat gampang… ingat tentunya dengan catatan kalau Allah menghendaki
. Kalau toh ngga’ dapat, ngga’ apa-apalah. Ikut kontes ginian juga sudah terbilang asyik. Meski tetap saja saya berharap dapat hadiah.
Akhirnya kuputuskan untuk ikutan kontes, awalnya aku buka dulu blog temanku yang di situ memang sudah terpampang sebuah banner yang jika diklik akan langsung menuju ke faceblog. Barulah aku tahu, ternyata ini adalah sebuah jejaring sosial baru yang dikhususkan untuk para blogger. Wah..bagus juga nih, siapa tahu aku bisa sharing dengan sesama blogger, bisa nambah ilmu, teman, wawasan, dan mungkin masih banyak lagi nantinya. Bisa juga buat nambah pengunjung blog lho. Awalnya aku sempat berpikir, kok namanya mirip sama facebook. Ternyata faceblog ini tak ada hubungannya dengan facebook, pemiliknya juga beda. Kalau facebook itu bikinan orang luar, maka faceblog ini benar-benar made in Indonesia. Meski fitur-fiturnya belum sepenuhnya lengkap, tapi ada satu kelebihan yang dimiliki faceblog dibanding facebook, di sini kita bisa update status sambil menyertakan emoticon, selain itu juga terdapat emoticon untuk menunjukkan suasana hati kita saat itu. Di faceblog ini kita juga bisa meng-upload file, gambar maupun video, adapun untuk updatestatus maksimal sebanyak 350 karakter. Lanjut membaca
Sekelumit tentang Transportasi di Ibukota
Kamis 26 Mei 2011, sore itu seperti biasa saya pulang dari kantor naik bus jemputan. Sekitar pukul 17.10 bus mulai berjalan meninggalkan kantor saya yang terletak di sekitar kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Awalnya suasana jalan seperti biasa saja, jalan-jalan ibu kota memang selalu ramai, padat dan merayap di sejumlah titik. Sore itu justru terasa tak semacet dua hari sebelumnya.
Memasuki Jalan Terusan Gandaria antrean kendaraan sudah tampak mengekor. Hampir bisa dipastikan setiap jam pulang kantor jalan ini dan Jalan Iskandar Muda (Arteri Pondok Indah) di ujung Terusan Gandaria selalu macet, lautan mobil tampak hingga jauh ke depan. Di tengah jalan Iskandar Muda ini sebenarnya sudah ada jalur khusus untuk bus transjakarta, tapi jalur khusus itu sepertinya tidak berlaku, kemacetan parah membuat jalur yang sebenarnya sudah dipisahkan dengan separator itu ikut dipenuhi kendaraan, baik bus, mobil, bahkan sepeda motor pula. Tak bisa saya bayangkan jika jalur itu benar-benar disterilkan, sampai dimana kemacetan ini akan mengekor.

- Jalan Iskandar Muda (Jalan Arteri Pondok Indah) Salah satu tempat langganan macet di Jakarta Sumber: http://www.tmcmetro.com/
Tak sampai di situ saja, dari Jalan Iskandar Muda bus jemputan kantorku belok ke Jalan Cendrawasih hingga sampai di pertigaan, dari situ seharusnya belok kanan di Jalan Ciputat Raya lalu belok kiri lagi di Jalan Veteran ke arah Tanah Kusir, rupanya sore itu sedang macet parah, akhirnya sopir bus pun mengarahkan bus untuk belok kiri menyusuri Jalan Ciputat Raya menuju arah Pondok Pinang, di sini pun ternyata macet juga, bahkan sampai stagnan tak bergerak beberapa menit. Ternyata penyebab kemacetan di sini adalah banyaknya mobil-mobil mengantre masuk ke sebuah jalan kampung yang jadi akses ke Jalan Veteran tanpa melalui Tanah Kusir yang lagi macet parah itu
Selepas dari titik itu, lalu lintas terasa lebih lancar, hingga akhirnya masuk ke Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR). Ketika sampai di atas Jalan Veteran jalan tol ini ternyata juga macet. Wow lumayan panjang juga, padahal ini kan jalan tol, kemacetan berujung di tikungan sebelum memasuki Jalan Tol Ulujami-Serpong yang memang menyempit. Kalau begini keadaanya, mungkin artinya jalan tol bukanlah solusi jitu untuk kemacetan. Lanjut membaca